1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer>

KUNCI SUKSES SEORANG PEMIMPIN

PDF Cetak Email

Ditulis oleh Misman Hadi Prayitno, S.Ag, MH Rabu, 14 Maret 2012 10:12

 

KUNCI SUKSES SEORANG PEMIMPIN

(Makna Spiritual Kepemimpinan Makutharama)

Oleh : Misman Hadi Prayitno [1]


Telah banyak teori maupun konsep yang dibahas oleh para pakar atau ahli mengenai pemimpin atau kepemimpinan. Bahkan banyak teori-teori tentang kepemimpinan modern yang ditawarkan untuk diterapkan agar berhasil dan sukses dalam memimpin. Namun masih saja keberhasilannya dalam memimpin belum baik, terbukti masih banyak praktek KKN yang ditemukan mulai dari daerah sampai pusat. Tidak jarang pula pemimpin yang justru menyalahgunakan kewenangannya (abuse of power). Apakah ini karena konsep kepemimpinan yang diterapkan tidak cocok atau ada konsep yang lebih baik dan sesuai dengan nilai-nilai luhur atau norma–norma sosial yang dimiliki bangsa kita. Secara etimologi pemimpin dapat diartikan sebagai khilafah, imamah atau imarah, yang berarti memiliki daya memimpin, dan secara terminologi berarti kemampuan untuk mengajak orang lain agar mencapai tujuan-tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Sedangkan kepemimpinan menurut James M. Black adalah kemampuan yang sanggup menyakinkan orang lain supaya bekerja sama dibawah kepemimpinannya sebagai suatu team untuk mencapai atau melakukan sesuatu tujuan tertentu. Meminjam bahasanya Emha Ainun Najib, pemimpin itu harus punya daya angon atau daya mengembalakan, kesanggupan untuk “ngemong” (mengasuh) semua pihak, karakater untuk merangkul dan memesrai siapa saja sesama saudara, sesama bangsa (tanpa membedakan suku, ras dan agama).

Tugas pemimpin itu setidak-tidaknya ada enam menurut Henri Fayol : 1). Planning (perencanaan), 2. Organizing (membagi tugas), 3. Commanding (memberi perintah), 4. Coordinating (koordinasi atau menyelaraskan), 5. Controlling (pengawasan). Oleh karena itu agar pemimpin dapat menjalankan kepemimpinannya dengan baik maka harus memenuhi kelebihan/keunggulan, menurut Dr. Ruslan Abd.Gani ada tiga sifat keunggulan yaitu : 1. Intellectual power (keunggulan pikiran dan rasio, tahu tujuan organisasi, tahu asas organisasi, tahu mencapai tujuan organisasi), 2. Mental power (keunggulan rohaniah: kuat kemauan, tabah, budi luhur, dedikasi, tidak mudah patah semangat), dan 3. Physical power ( keunggulan fisik: tahan bekerja keras, tidak sakit-sakitan). Kridebilitas seorang pemimpin tidak ditentukan dari faktor pintar dan cerdas saja, menurut Drs. Syamsuhadi Irsyad, SH.MH. bahwa pemimpin tidak mutlak harus pintar dan cerdas, tetapi hendaklah orang yang disenangi oleh semua pihak dan dapat mengkondisikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi secara harmonis, adil dan bijaksana.

Pemimpin adalah pemegang amanah yang diembannya, olehnya itu seorang pemimpin pada dasarnya mempunyai tanggungjawab yang sangat berat. Selain harus bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya atau bawahnya akan tetapi yang lebih berat lagi tanggungjawab terhadap Allah. Pemimpin juga berperan sebagai ra’in (pengembala) sebagaimana Sabda Nabi SAW : “ setiap kamu pengembala (pemimpin) dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang digembalakannya/dipimpin. (HR. Ahmad) Seorang pemimpin yang baik harus memiliki sifat dan perilaku sebagai khalifah atau dengan kata lain seorang pemimpin harus bisa menggantikan fungsi dan peran kenabian dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat atau bawahannya. Sifat dan akhlak para nabi menjadi tuntunan seperti Siddiq (berlaku jujur), amanah (bisa dipercaya) Fathonah (cerdas) dab Tabligh (komunikatif), dan istiqomah (komitmen, konsisten, optimis, pantang menyerah dan percaya diri).

Orang yang dapat memegang amanah maka disebut sebagai amin (dapat dipercaya). Menjalankan Amanah padasarnya sangat berat sebagaimana digambarkan dalam QS. Al-Ahzab: 72, yang artinya “Bahkan langit, bumi dan gunung-gunung tidak sanggup memikulnya, lalu manusia dengan kelebihan yang diberikan Allah berupa pikiran, perasaan dan kehendak mau menanggungnya.

Seorang pemimpin pada dasarnya adalah seorang pelayan (servant) atau hamba yang tugasnya memberi pelayanan terhadap masyarakat dengan sebaik-baiknya, sehingga seorang pemimpin harus mempunyai kepekaan terhadap keperluan yang dibutuhkan masyarakat. Menurut Said Munji sebagai pelayan yang baik, pemimpin memiliki prinsip-prinsip dasar pelayanan yaitu : kejujuran dan keikhlasan, kualitas hubungan, partisipasi, mendengarkan, kejujuran, feedback (respon), pembaharuan dan perubahan.

Agar seorang pemimpin berhasil dan sukses dalam kepemimpinannya harus belajar melalui keteladan atau contoh pemimpin yang telah meraih sukses dan mampu menyejahterakan rakyat atau bawahanya. Keteladanan adalah sesuatu hal yang patut diitiru atau baik untuk dicontoh. Maka ada benarnya menurut John C. Maxwell “kepemimpinan yang paling efektif adalah melalui keteladanan bukan melalui pendidikan”.

Ada sebuah budaya lokal yang patut untuk diambil hikmah atau patut untuk ditiru untuk dijadikan pedoman dalam meraih kesuksesan kepemimpinan. Konsep kemimpinan yang dikenal didunia pewayangan yakni filosofi konsep Kepemimpinan Makutharama. Bagi masyarakat Jawa sudah tidak asing lagi karena telah tersosialisasikan dalam pentas pewayangan atau biasa disebut “Ilmu Hasta Brata”. Ada juga yang menyebut Hasta Gina atau Hasta Pedah (hasta = artinya 8, brata = artinya tugas, kewajiban, Gina = artinya kebajikan, Pedah = artinya petunjuk, petuah). Ilmu tersebut telah mengantarkan kesuksesan raja besar yaitu Sri Rama Wiajya dan Bethara Kresna dalam memimpin negaranya. Menurut Drs. Wawan Susetyo, Ilmu Hasta Brata adalah ilmu yang meneladani perwatakan 8 (delapan) anasir alam semesta dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Pertama : Hambeging kisma (wataknya bumi) yakni simbol badan manusia, seorang pemimpin hendaknya meneladani wataknya bumi yang maknanya kaya, rela, suka berderma, kaya hati (Bhs jw : lembah manah, legawa, narima). Seorang pemimpin tidak boleh cepat marah dan harus punya sifat sabar, welas asih, pemimpin harus bisa mencontoh seperti sifat bumi. Pemimpin tidak boleh ngresula (menggerutu) meski hatinya merasa sakit oleh cacian dan makian orang-orang yang dipimpinnya atau rakyat. Seorang pemimpin harus bisa bersikap halus, bijaksana dan sabar dalam segala keadaan karena pemimpin selalu berhadapan dengan siapapun dari berbagai kalangan.

Kedua : hambeging tirta (wataknya air) simbol dari wicara (bicara) yang maknanya selalu mengalir ketempat yang lebih rendah dan selalu bersikap andap asor anoraga atau rendah hati dalam kehidupan sehari-hari. Rendah hati pada hakekatnya bermakna kesadaran akan keterbatasan kemampuan diri, jauh dari kesempurnaan dan terhindar dari setiap bentuk keangkuhan (adigang adigung adiguna). Rendah hati mendorong terbentuknya sikap realistis, mau membuka diri untuk terus belajar, menghargai pendapat orang lain, menumbuhkan kembangkan sikap tenggang rasa (tepa slira) serta mewujudkan kesederhanaan, penuh rasa syukur dan ikhlas dalam menjalankan tugas. Sifat orang yang demikian bisa dikatakan mengalir saja dalam hidupnya, tidak mentargetkan sesuatu, tenang dan bening sebagaimana karakter air, tidak tergesa-gesa, lemah lembut jauh dari depresi/stres.

Ketiga : hambeging samirana (wataknya angin), simbol nafas manusia, yang maknanya selalu meneliti dan menelusup kemana-mana sehingga mengetahui secara persis persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat. Seorang pemimpin sebelum mengeluarkan kebijakan atau memutuskan sesuatu terlebih dahulu ia menyelidiki dan mengadakan penelitian ke lapangan, sehingga keputusan atau kebijakannya menjadi semakin bermakna dan tidak menimbulkan permasalahan di masyarakat. Seorang pemimpin harus dituntut bisa menyerap aspirasi rakyat/bawahannya, olehnya itu perlu mengadakan penelititan, penyelidikan sebelum berbuat.

Keempat : hambeging samodera (wataknya lautan), simbol dari rasa pangrasa manusia, yang maknanya luas hatinya dan siap menerima keluhan atau menampung beban orang banyak tanpa keluhan. Seorang pemimpin tidak boleh membeda-bedakan antara golongan atau kelompok/ suku satu dengan lainnya. Juga bermakna seorang pemimpin itu harus siap menampung berbagai masalah/problem, kesulitan yang ada dimasyarakat atau yang dipimpinnya, tetapi juga harus mampu mencari jalan keluarnya (problem solving). Pemimpin harus bisa sebagai penyejuk umat, dan bukan justru jadi provokator sehingga rakyat atau yang dipimpimnya tidak jadi bingung.

Kelima : hambeging candra (wataknya bulan) simbol dari kebersihan hati manusia, maknanya selalu memberi penerang kepada siapapun dan mengambarkan nuansa keindahan religius spiritual yang senantiasa mengingat kebesaran dan keagungan Allah. Juga dapat dimaknai bahwa pemimpin harus dapat memberi contoh yang baik kepada yang dipimpin berupa nasehat, perilaku dan penjelasan. Seorang pemimpin harus memposisikan sebagai suri tauladan saat dalam kegelapan.

Keenam : hambeging surya (wataknya matahari) simbol yang melambangkan angan-angan manusia, yang maknanya memberi daya, energi kekuatan/power kepada orang lain. Jika kita lihat matahari itu selalu terbit dari timur dan terbenam disebelah barat, ini menunjuk suatu perjalanan yang istiqomah (alon-alon maton, alon-alon klakon). Atau juga bermakna bahwa pemimpin itu harus bersikap istiqomah dan disiplin yang tinggi sekaligus kekuatan dan semangat serta harapan untuk terus hidup. Apabila aturan atau kebijakan yang sudah dibuat / diputuskan harus dijalankan. Juga bermakna bahwa pemimpin diharapkan dapat berperan sebagai penerang rakyat/bawahan yang dipimpinannya sebagai matahari sebagai pelita dunia.

Ketujuh : hambeging dahana (wataknya api) simbol dari nafsu manusia, yang maknanya mampu menyelesaikan masalah dengan adil serta tidak membeda-bedakan satu sama lainnya (pilih kasih). Watak api dalam kontek ini bersifat positif, seorang pemimpin harus serius dan mampu menyelesaikan masalah dengan tuntas (bisa mrantasi gawe). Seorang pemimpin harus bersikap tegas tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum dan kebenaran. Demi penegakan hukum seorang pemimpin harus bersikap adil, meskipun terhadap saudara atau familinya. Jika dalam konteks seorang penegak hukum (hakim) harus seperti Dewi Themis, pedang ditangan kanan, timbangan ditangan kiri dan mata tertutup.

Kedelapan : hambeging kartika (wataknya bintang), simbol dari karsa manusia, maknanya menggambarkan kepribadian, posisi bahkan cita-cita yang tinggi, kokoh dan bersifat tetap seperti bintang dilangit. Bintang biasa dijadikan pedoman nelayan dilaut. Fungsinya pengganti kompas (penunjuk arah). Pemimpin harus bisa memberikan pedoman, petunjuk sekaligus arahan bagaimana cara melangkah yang benar. Dapat dimaknai juga seorang pemimpin tidak boleh punya sikap berubah-ubah (harus konsisten dan istiqomah).

Sebenarnya jika dikaji lebih mendalam makna spiritual kepemimpinan Makutharama atau ilmu Hasta Brata yang meneladani dari perwatakan delapan alam tersebut, seorang pemimpin atau siapapun akan masuk ke wilayah spiritual religius. Coba kita kembali ajaran agama Islam, bahwa alam semesta ini sebenarnya merupakan ayat-ayat Allah yang tersirat (kauniyah). Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsamain agar iman bisa bertambah salah satu caranya adalah memperhatikan ayat-ayat Allah baik yang syar’iyah (yang tersurat) maupun yang kauniyah. Seseorang yang memperhatikan, bertadabbur dan merenungkan ayat-ayat kauniyah atau alam raya ini imannya akan naik (mengakui kebesaran Allah). Sebagaimana firman Allah SWT “ Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan juga ada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan ? (QS. Adz-Dzariyat : 20-21). Anjuran agar manusia melihat tanda-tanda kebesaran Allah dengan merenungi terhadap alam semesta ini akan melahirkan kedekatan dengan sang maha Kuasa dan bisa mengambil hikmah serta pelajaran penting dari alam.

Nilai kearifan lokal yang dicontohkan dalam pentas pewayangan dapat memberikan gambaran bahwa peradaban bangsa Indonesia jaman dulu (orang-orang Jawa kuno) sudah cukup maju yang berkaitan dalam merumuskan nilai-nilai kehidupan itu sendiri. Sebagai contoh dalam ilmu ketatanegaraan atau kepemimpinan, ada ungkapan negara gemah ripah loh jinawi (makmur atau identik dengan baldatun thayyibatun wa rabun ghafur), mewayu hayuning bawana (maksudnya identik dengan rahmatan lil’alamin). Namun sayang nilai-nilai luhur yang dicontohkan dalam kepemimpinan Makutharama belum bisa diterapkan secara menyeluruh, sehingga hasilnya tidak mengherankan, terbukti masih banyak terjadi penyalahgunaan wewenang/kekuasaan (abuse of power). Praktek-praktek KKN, suap dan lain-lain banyak dilakukan para pejabat atau pemimpin dinegara ini mulai dari level terendah hingga tertinggi. Bagaimana pemimpin-pemimpin negara kita mulai dari era orde lama, orde baru hingga orde reformasi semua tumbang dan berakhir dengan meninggalkan kesan “tidak husnul khatimah”. Pemimpin-pemimpin dunia mana saja jika pola kepemimpinannya sudah tidak sesuai lagi dan tidak berpihak pada rakyat sehingga menimbulkan kemiskinan dan korupsi, maka sudah dapat dipastikan pemimpin tersebut akan tumbang atau digulingkan oleh rakyatnya sendiri. Hal ini terbukti bagaimana pemimpin-pemimpin dunia yang ada di kawasan Timur Tengah hampir semuanya tidak luput dari para demonstran, sebagai contoh Tunisia, Mesir, dan yang terakhir pemimpin Libya Muamar Khadafi akhirnya harus tewas oleh rakyatnya sendiri.

Jika mau para pemimpin dinegeri ini baik dari level terendah hingga tertinggi mau mengadopsi gaya “kepemimpinan Makutharama” atau Ilmu Hasta Brata, maka Insya Allah akan meraih sukses dan berhasil sebagai pemimpin. Namun jika ada satu dari delapan tersebut (hasta brata) tidak dijalankan/ditinggalkan maka akan gagal menjadi pemimpin. Pesan-pesan yang terkandung dalam pewayangan bersifat mendidik dan mengenalkan norma-norma sosial yang berlakukan di masyarakat, oleh karena itu media pewayangan digunakan oleh Wali Songo untuk menyebarkan Islam di Jawa. Bahkan Wayang oleh PBB tahun 2003 diakui bahwa wayang merupakan karya kebudayaan yang menggagumkan dalam bidang cerita dan narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga. Mudah-mudahan para pemimpin kita bisa dan mau benar-benar “nyarira” (menerapkan) pola kepemimpinan Makutharama atau Ilmu Hasta Brata agar menjadi pemimpin yang sukses.

Bungku, 30 Oktober 2011

Penulis,

Misman Hadi Prayitno



[1] Hakim Pengadilan Agama Bungku

Share on Facebook
 

Other Menu

Ketua PA Bungku

ir rasyid ridha syahide, sh

Ir. Rasyid Ridha Syahide, SH

Statistics

OS : Linux k
PHP : 5.3.17
MySQL : 5.1.72-cll
Time : 08:41
Caching : Disabled
GZIP : Enabled
Anggota : 6
Isi : 199
Content View Hits : 235205